Kalau teman-teman perlu versi lengkapnya, boleh hubungi admin Blog ya........ :-) ntar dibantuin kok. Asal ada.........eummm.... eum..... hahaa..... Ok. Dibawah ini cuplikan KTI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN
SIKAP MASYARAKAT DENGAN PENYAKIT PERIODONTAL
ABSTRAK
Pengetahuan dan
sikap sangat berpengaruhi terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut
khususnya terhadap penyakit periodontal. Berdasarkan data awal yang di peroleh dari puskesmas Kuta
Baro kecamatan Kuta Baro Aceh Besar pada tahun 2012 yang menderita penyakit
periodontal sebanyak 10 (2,5%) orang. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui
hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat di Desa Cot Beut Kecamatan Kuta Baro
Kabupaten Aceh Besar tahun 2013.
Penelitian ini
bersifat analitik yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juni sampai dengan 4 Juli
2013. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah masyarakat di desa Cot Beut.
Sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik random sampling sebanyak
200 orang, cara penelitian ini memakai pemeriksaan dan wawancara yaitu
kuesioner.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap penyakit periodontal dengan kategori
kurang baik sebanyak 119 orang ( 59,5%). Sikap masyarakat terhadap penyakit
periodontal dengan kategori kurang baik
117 orang (58,5%), responden berdasarkan ada tidaknya periodontal pada
masyarakat, ada 127 orang (66%) dan tidak ada 73 orang ( 34%). Frekuensi
hubungan pengetahuaan masyarakat terhadap penyakit periodontal hasil
perhitungan chi-square x² hitung 56,96 ≥ 3,841 sehingga penelitian ini
menunjukkan bahwa Ha diterima, di mana ada hubungan antara pengetahuaan
mayarakat terhabap penyakit periodontal. frekuensi hubungan sikap masyarakat terhadap penyakit
periodontal hasil perhitungan chi-square x² hitung 86,61 ≥ 3,841 sehingga
penelitian ini menunjukkan ada hubungan sikap masyarakat terhadap penyakit
periodontal.
Berdasarkan
hasil dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap penyakit periodontal di Desa Cot Beut Kecamatan Kuta Baro kabupaten
Aceh Besar Tahun 2013. Disarankan kepada masyarakat untuk meningkatkan
kesadaran dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut, serta sering berkonsultasi ke
poligigi,puskesmas sehingga derajat kesehatan gigi dan mulut dapat tercapai.
Daftar bacaan : 13 buku ( 1992-2010)+ 1 internet
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi masyarakat ,agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal meliputi kesehatan fisik,mental dan social,kesehatan
gigi dan mulut adalah bagian dari kesehatan fisik yang juga tidak boleh di
abaikan (Depkes, 2009). lebih lanjut, pasal 93 ayat 1 tentang kesehatan gigi
dan mulut menyatakan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk
peningkatan kesehatan gigi,pencegahan penyakit gigi,pengobatan penyakit gigi,
dan pemulihan kesehatan gigi oleh pemerintah,pemerintah daerah,dan/atau
masyarakat yang dilakukan secara terpadu,terintegrasi dan berkesinambungan
(Depkes RI, 2009).
Gigi dan mulut mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia, walaupun
demikian masih banyak orang yang tidak tahu bahwa rongga mulut adalah organ
yang berperan penting bagi kesehatan tubuh. Beberapa ahli menyatakan bahwa
kesehatan rongga mulut merupakan bagian
integral dari kesehatan umum (Richmond cit Amaniah, 2009). Rongga mulut
dikatakan sehat tidak hanya bila mempunyai susunan gigi yang cantik, rapi,dan
teratur saja tetapi juga harus bebas dari bau mulut serta penyakit-penyakit
rongga mulut lainnya. Selain berfungsi untuk berkomunikasi secara
efektif,rongga mulut yang sehat memungkinkan seseorang menikmati berbagai jenis
makanan dan meningkatkan kualitas hidupnya (Amaniah, 2009)
Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut memegang peranan penting dalam
menjaga kesehatan gigi yang bertujuan menghilangkan plak dan jaringannya, untuk
mempertahankan gigi dan mulut, maka kebersihan gigi dan mulut harus mendapat
perhatian dan pemeliharaan yang baik, lebih dari 80% masyarakat Indonesia
mempunyai tingkat kebersihan gigi dan mulut yang rendah dan buruk. Bardasarkan
data Susena (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 1998 dinyatakan bahwa masyarakat
belum menyadari pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut hal ini terlihat
dari 22,8% penduduk Indonesia tidak
meyikat gigi dari 77,2%, hanya 8,15% yang menyikat gigi tepat waktu.
Kesadaran masyarakat untuk berobat kefasilitas pelayanan kesehatan masih
rendah, masyarakat yang mengeluh sakit gigi datang dalam keadaan terlambat
sehingga rata-rata gigi rusak harus dicabut (Herijulianti, 2002).
Pengetahuaan merupakan hal yang
sangat mendasar untuk terbentuknya suatu tindakan kesehatan (health overt
behavior). Perilaku kesehatan akan lebih baik jika didasari oleh
pengetahuaan, sehingga sangat mempengaruhi sikap terhadap pemeliharaan
kesehatan gigi dan mulut. Terbentuknya suatu prilaku sehat terutama pada orang
dewasa dimulai pada orang dewasa di mulai pada tingkat pengetahuaan terhadap
stimulus yang berupa materi atau objek diluarnya (Notoadmodjo, 2003).
Penyakit periodontal adalah suatu keadaan dan degenerasi dari jaringan
lunak dan tulang penyanngga gigi .penyakit periodontal bersifatam
khronis,kumulatif dan progesif yang dapat mengakibatkan penderita kehilangan
gigi .etiologi penyakit periodontal ini sangat kompleks,dan merupakan
penyebab utama kehilangan gigi pada
kelompok usia 35 tahun k atas.di Indonesia penyakit periodontal menduduki
urutan kedua utama yang masih merupakan masalah di masyarakat.
Penyakit periodontal memang tidak populer, jarang diperbincangkan ,tapi
perlu diketahui karena merupakan salah satu penyakit dalam rongga mulut yang
sering terjadi ,penyakit ini mengenai jaringan gusi dan penyangga lainnya ,yang
termasuk penyangga gigi adalah gusi,serat perekat gigi dan tulang disekitarnya
gigi,penyakit periodontal merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada orang
dewasa yang disebabkan infeksi bkteri
menimbulkan kerusakan gigi,serat perekat
dan tulang di sekitar gigi .penyebab utamanya adalah plak (Melinda,
2008).
Berdasarkan data awal yang diperoleh dari Puskesmas Kuta Baro Tahun 2012
,terdapat 10 ( 2,5 % ) warga diantaranya yang menderita penyakit periodontal di
Desa Cot Beut Kec Kuta Baro Aceh Besar dan sudah melakukan perawatan
dipuskesmas tersebut.Berdasarkan hasil dari wanwancara dari 10 warga tersebut,
bahwasanya masyarakat tersebut memiliki sikap dan pengetahuan yang rendah dalam
menjaga kesehatan gigi dan mulut terutama penyakit periodontal, maka penulis ingin mengetahui “ Hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap penyakit Periodontal di Desa Cot Beut Kec Kuta baro Aceh Besar Tahun
2015”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di jelaskan diatas maka perumusan
masalah yang akan dikaji adalah bagaimanakah Hubungan Pengetahuan Dan Sikap
Masyarakat Terhadap Penyakit periodontal pada masyarakat di Desa Cot Beut Kec
Kuta Baro Aceh Besar ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap penyakit periodontal di Desa Cot Beut Kecamatan Kuta Baro Aceh Besar
2015.
2. Tujuan
Khusus
a. Untuk
mengetahui hubungan pengetahuan
masyarakat terhadap penyakit periodontal di Desa Cot Beut Kecamatan Kuta
Baro Aceh Besar 2015.
b. Untuk
mengetahui hubungan sikap masyarakat terhadap penyakit periodontal di Desa Cot
Beut Kecamatan Kuta Baro Aceh Besar 2015.
c. Mengetahui
hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penyakit periodontal di Desa
Cot Beut Kecamatan Kuta Baro Aceh Besar 2015.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi
Lokasi Penelitian
Dapat memberikan informasi tentang hubungan
pengetahuan dan sikap kepada masyarakat terhadap penyakit periodontal di Desa
Cot Beut Kec Kuta Baro Aceh Besar.
2. Bagi
Akademik
Hasil penelitian ini dapat di manfaatkan sebagai
bahan dasar penelitian selanjutnya.
3. Bagi
Peneliti
Menambah pengetahuan
wawasan dan pengalaman dalam bidang kesehatan gigi dan mulut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengetahuan
1.
Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu
penginderaan terhadap suatu objek. Penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia yakni penglihatan , pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian
besar pengetahuaan merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan tertentu. Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia atau seseorang
yang sekedar menjawab pertanyaan tentang apa sesuatu itu yang sudah diperoleh
sebelumnya. Misalnya : apa manusia, apa air dan apa alam ( Notoatmodjo, 2003 )
2. Tingkatan
Menurut ( Notoatmodjo, 2003 ) pengetahuan
yang dicakup didalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkatan yaitu :
-
Tahu ( know )
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk kedalam pengetahuaan , tingkat ini adalah mengingat kembali (
recall ) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima.
-
Memahami ( comprehension )
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut
secara benar.
-
Aplikasi ( Aplication )
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan yang menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi riil ( sebenarnya ).
-
Analisis ( Analysis )
Analisis diartikan suatu kemampuan yang menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
-
Sintesis ( Synthesis )
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan suatu
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
-
Evaluasi ( Evaluation )
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
B.
Sikap
Menurut Walgito (2003), sikap yang ada pada seseorang akan memberikan
warna atau corak pada perilaku atau perbuatan orang yang bersangkutan. Perilaku
peduli (caring) juga merupakan sikap peduli, menghormati, dan menghargai orang
lain, artinya memberi perhatian dan mempelajari kesukaan – kesukaan seseorang
dan bagaimana berfikit dan bertindak. Memberikan asuhan secara sederhana tidak
hanya sebuah perasaan emosional atau tingkah laku sederhana, karena perilaku
peduli merupakan kepedulian untuk pencapai perawatan ynag lebih baik, perilaku
bertujuan dan berfungsi membangun sruktur social, pandangan hidup dan nilai
klutur setiap orang yang berada pada suatu tempat, maka kinerja perawat
khususnya pada perilaku peduli menjadi sangat penting dalam mempengaruhi
kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terutama dirumah sakit, dimana kualitas
pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang nantinya akan dapat
kepuasan pasien dan mutu pelayanan. Sikap kerja perawat adalah tindakan yang
diambil perawat dalam kegiatan pelayanan yang sesuai dengan etika dan wewenang
profesi keperawatan sebagai wujud dari kecendrungan perasaan puas atau tidak
puas terhadap pekerjaannya.
Munurut Notoadmodjo (2003 ),sikap
adalah merupakan reaksi atau respon terhadap suatu rangsangan ( stimulus ) atau
objek . Dalam bagian lain Allpore ( 1995
), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
-
Kepercayaan ( keyakinan ), ide dan konsep
terhadap suatu objek.
-
Kehidupan emosional atau evaluasi
emosional terhadap suatu objek.
-
Cenderung untuk bertindak ( tred to
behave )
Sikap
terdiri dari berbagai tingkat, yaitu :
1. Menerima ( Receiving )
Menerima , diartikan bahwa orang (objek ) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan ( objek ).
2. Merespon ( Responding )
Memberikan jawaban apabila ditanya , mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan
adalah suatu indikasi dan sikap .
3. Menghargai ( Valuing )
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah sikap tingkat
tiga.
4. Bertanggung jawab ( Responsinble )
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilih
dengan segala resiko adalah merupaakan sikap yang paling tinggi ( Notoatmodjo,
2003 ).
C.
Penyakit Periodontal
1.
Pengertian penyakit periodontal
Penyakit periodontal adalah peradangan dari jaringan
penyangga gigi yang meliputi gingival, serabut-serabut periodontal, sementum
dan tulang alveolar sebagai akibat lanjut dari gingivitis yang tidak terawat.
Penyakit periodontal adalah terjadinya peradangan
pada gusi yang dapat berubah menjadi kerusakan pada jaringan periodontal, yang
menyebabkan hilangnya jaringan penyangga gigi yang tidak dapat di atasi lagi (
pilot , 1993 ).
2.
Jaringan periodontal
a.
Gingiva
Gingiva
adalah bagian mukosa rongga mulut mengelilingi dan menutupi linger ( ridge )
alveolar. Merupakan bagian dari pendukung gigi, periodonsium, dan dengan
membentuk hubungan dengan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut.
Gingiva tergantung pada gigi geligi , bila ada gigi geligi , gingival juga ada
dan gigi dicabut gingival akan hilang ( Manson, 1993 ).
Tanda-tanda gingival sehat :
1)
Berwarna merah jambu
2)
Adanya interdental papil yang mengisi ruang interproximal sampai titik
kontak gigi.
3)
Bagian margin ( tepi gingiva ) tipis dan tidak bengkak.
4)
Permukaan gigi tidak rata ( seperti kulit jeruk ).
5)
Gingiva lekat sekali pada gigi dan prosesus alveolus.
6)
Sulkus gingiva ≤ 2 mm,jika lebih 2 mm disebut poket.
7)
Tidak ada eksudat ( cairan ) dan tidak mudah berdarah.
b.
periodontal membran
periodontal membran adalah suatu ikatan, biasanya menghubungkan dua buah
tulang. Akar gigi berhubungkan dengan soketnya
pada tulang alveolar melalui struktur jaringan ikat yang dapat diangap sebagai
periodontal membran. Periodontal membrane tidak hanya menghubungkan gigi
ketulang rahang tetapi juga menompang gigi pada soketnya dan menyerap beban
yang mengenai gigi ( Manson, 1993 ).
c.
Cementum
Cementum adalah jaringan ikat yang
membentuk dan melapisi atau mengelilingi bagian luar dari gigi. Cementum dapat
dianggap sebagai tulang pelekatan dan merupakan satu-satunya jaringan gigi
khusus dari jaringan gigi periodontal. Fungsi cementum sebagai pelindung ,
penyangga lainnya, memberikan fosfor
untuk gigi terutama pada umur yang sudah lanjut dimana rongga pulpa sudah
menyempit pada pertengahan akar.
d.
Tulang alveolar
Tulang alveolar adalah bagian tulang
rahang yang menompang gigi geligi. Fungsi tulang alveolar memegang gusi pada
tempatnya dengan perantaran periodontal membran . Secara keseluruhan fungsi
jaringan periodontal untuk mengikat gigi ke tulangn alveolus ( Manson , 1993 ).
3.
Proses terjadinya penyakit periodontal
Menurut Manson (1993 ), umumnya penyakit periodontal
sifatnya kronis sehingga gejala atau tanda yang timbul baru disadari oleh
penderitanya apabila keadaanya sudah lanjut . Proses penyakit periodontal
dimulai dari gusi dengan tanda-tanda :
a.
Perubahan bentuk gusi,warna gusi menjadi merah d an bengkak.
b.
Terjadinya pendarahan pada gusi.
c.
Nyeri dan sakit.
d.
Rasa tidak enak.
e.
Timbul aroma mulut yang tidak sedap.
4.
Faktor-faktor
lokal yang dapat menyebabkan penyakit periodontal
Beberapa factor –faktor local yang dapat menyebabkan
terjadinya penyakit periodontal,
diantaranya :
a.
Plak adalah lapisan bakteri yang lunak, tidak terkalsifikasi, menumpuk
dan melekat pada gig geligi. Dalam bentuk lapisan tipis plak umumnya tidak
terlihat dan hanya dapat terlihat dengan bantuan bahan disclosing. Dalam bentuk
lapisan tebal plak terlihat sebagai deposit kekuningan atau ke abu-abuan yang
tidak dapat dilepaskan dengan kumur-kumur tetapi dapat dihilangkan dengan
penyikatan ( Manson, 1993). Plak gigi yang dibiarkan juga dapat memicu
terjadinya kelainan gigi ( seperti karies) dan membentuk karang gigi yang
bersifat lebih keras (Djamil, 2011)
b.
Calculus dental adalah massa terklasifikasi yang melekat kepermukaan gigi
asli maupun gigi tiruan . Biasanya kteri yang lunak,kalkulus terdiri dari plak
bakteri yang telah mengalami mineralisasi. Berdasarkan lokasi perlekatannya di
kaitkan dengan tepi gingival kalkulus dental dapat dibedakan atas kalkulus
supragingiva dan subgingiva.
c.
Materi alba adalah deposit lunak ,bersifat melekat,berwarna kuning atau
putih keabu-abuan yang daya lekatnya
lebih rendah dibandingkan plak dental.
d.
Steindental adalah deposit berpigmen yang melekat kepermukaan gigi.Umumnya
steindental terjadi akibat pigmentasi pelikel akuid oleh bakteri terogenik, makanan atau bahan kimia.
Beberapa bakteri teragonik menyebabkan stein yang bervariasi seperti : stein
hitam ( black stein ), stein hijau ( green stein ), dan stein jingga ( orange
stein ).
e.
Debris atau yang lebih dikenal dengan sisa makanan yang lunak dan melekat
pada permukaan gigi.
f.
Karies ( lubang gigi ) merupakan salah satu tempat yang mudah dilekati
oleh plak. Karies yang berada dekat ditepi gingival merupakan suatu lingkungan
yang mempermudah penumpukan dan perlekatan plak bakteri dan deposit lunak
lainya.
g.
Trauma mekanis dapat menyebabkan cidera pada gingiva sehingga lebih
mempermudah timbulnya inflamasi akibat serangan bakteri plak. Trauma mekanis
ini bila disebabkan oleh cara penyikatan gigi yang salah, atau kebiasaan
menggaruk – garuk gingival dengan kuku ( Deliemunthe (2008).
a. Faktor sistemik
Menurut Manson ( 1993 ), factor yang mempengaruhi tubuh secara
keseluruhan, misalnya, factor genetic, nutrisional.
1. Faktor genetic
Kerentangan
individual terhadap periodontitis kronis umumnya bervariasi dan ada beberapa
individual yang mencapai usia tua tanpa menunjukkan tanda-tanda kerusakan periodontal, sedangkan
individu lainya sudah terkena rangsangan periodontitis yang progresif pada usia
yang lebih muda. Sebagian besar manusia termasuk diantara kedua golongan
ekstren ini, sekitar 8-10 % pasien mempunyai kerentanan yang tinggi terhadap
penyakit ini, variasi pada respon dengan standar kebersihan mulut.
2. Faktor nutrisional
Secara
teoritis defisiensi dari nutrien utama dapat mempengaruhi keadaan gingival dan
daya tahannya terhadap iritasi plak, tetapi karna saling ketergantungan antara
berbagai diet yang seimbang, sangatlah untuk mendefinisikan, akibat defisiensi
spesifik pada seorang manusia. Pada defisiensi, nutrisional yang parah, yang
umumnya disertai dengan kebersihan mulut yang sangat buruk, terlihat adanya
kerusakan jaringan periodontal yang berkembang dengan cepat dan tanggalnya gigi
yang cukup dini akibat dari defisiensi vitamin B dan defisiensi vitamin C.
5.
Macam - macam penyakit Periodontal
Berikut ini merupakan macam-macam
penyakit periodontal :
a. Gingivitis
Gingivitis
yang artinya peradangan pada jaringan gusi merupakan tahap paling awal dari
penyakit periodontal. Kondisi ini disebabkan oleh iritasi dari plak yang
biasanya menumpuk di tepi gusi, apabila plak ini tidak diberikan maka
bakteri-bakteri yang ada didalamnya akan menghasilkan toksin atau racun yang
akan mengiritasi gusi. Awalnya gusi akan terlihat berwarna merah, membengkak,
dan gampang berdarah waktu menyikat gigi, hal ini akan mengakibatkan sulkus
gusi yang merupakan celah antara gigi dan gusi bertambah dalam. Apabila tidak
dirawat proses peradangan akan sampai
ke jaringan periodontal lainnya
khususnya tulang alveolar yang berfungsi
menjaga gigi dengan kokoh ( Ramadhan, 2010 ). Gingivitis dapat dicegah dan
disembuhkan melalui penyikatan gigi dan pembersihan sela gigi yang baik.
Sebaliknya, bila hygiene mulut jelek, gingivitis akan berkembang menjadi
periodontitis ( Melinda, 2008).
b. Periodontitis
Periodontitis
merupakan kerusakan yang meliputi
jaringan membran periodontal dan tulang alveolar. Perlekatan gusi dengan gigi
juga akan rusak sehingga sulkus gusi akan semakin dalam dan plak yang ada
didalamnya akan semakin sulit dibersihkan dengn menyikat gigi. Selain itu tepi
gusi juga bisa menurun sehingga mahkota gigi tampak lebih panjang, jaringan
periodontal pada kondisi seperti ini tidak bisa kembali utuh seperti semula
tetapi proses kerusakannya akan dapat dihentikan dengan melakukan perawatan
skeling dikombinasikan dengan perawatan root planning ( Ramadhan, 2010 )
Tanda-tanda
periodontitis awal seperti tanda-tanda gingivitis, ditambah dengan keadaan gusi
yang kemerahan dan bengkak serta
terdorong menjauhi gigi. Sedangkan tanda-tanda gingivitis tingkat lanjut adalah
terjadi perubahan cara menggigit, perubahan kecekatan gigi palsu karena berkurangnya
tulang penyangga gigi. Akibat pengurangan tinggi tulang penyangga gigi, akar
gigi terbuka, sehingga sensitive terhadap panas atau dingin atau rasa sakit
ketika menyikat gigi. Peradangan pada jaringan periodontal sering kali ditandai
dengan keluarnya nanah diantara gigi dan gusi bila gusi ditekan, bau mulut dan
rasa gatal pada gusi. Berkurangnya dukungan jaringan penyangga gigi akan goyang
bahkan tanggal ( Melinda, 2008).
6.
Penilaian Penyakit Periodontal
Menurut Herijulianti ( 2002 ), untuk mendapatkan
penilaian jaringan periodontal tidak semua gigi yang diperiksa. Melainkan hanya
beberapa gigi saja yang disebut indek. Adapun gigi indeks tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan :
Tabel 1
Gigi Indks Penilaian Status Periodontal
|
76
|
1
|
67
|
|
76
|
1
|
67
|
a. Jika salah satu gigi molar dari gigi
indeks tidak ada, tidak perlu dilakukan penggantian gigi tersebut.
b. Jika dalam sektan tidak terdapat gigi
indeks, semua gigi yang ada dalam sextan tersebut semua diperiksa dan dinilai (
diambil yang mempunyai skor tertinggi di sextan tersebut ).
c.
Untuk usia 19 tahun kebawah, tidak perlu dilakukan pemeriksaan gigi molar
kedua, hal ini dilakukan untuk menghindari adanya false pocket.
d.
Untuk usia 15 tahun kebawah, pencatatan dilakukan bila ada pendarahan dan
karang gigi saja dan tidak ada poket.
e.
Bila tidak ada gigi indeks, gigi pengganti diberi nilai X.
Gigi
indeks diraba dengan menggunakan dental probe untuk mengetahui adanya :
a.
Pendarahan.
b.
Karang gigi.
c.
Kedalaman pocket antara 4-5 mm dan 6 mm atau lebih.
d.
Penilaian ( skor ) untuk tingkat kondisi jaringan periodontal.
e.
Menentukan relasi skor dengan kategori kebutuhan perawatan ( KKP ) tenaga
dan kebutuhan pelayanan.
Tekanan yang diberikan pada daerah
proximal saku gigi besarnya tidak melebihi 25 gram. Cara ditekankan pada daerah
kulit kuku ibu jari tangan, tidak menimbulkan rasa sakit, rasa tidak enak atau
rasa tidak menyenangkan. Perabaan dengan ujung sonde / probing mengikuti
konfigurasi anatomi akar gigi dari distal kearah mesial lebih baik pada
permukaan lingual ataupun bukal. Untuk menentukan skor dari saku periodontal .
Adapun penilaian terhadap keadaan periodontal dapat dilihat pada tabel berikut
( Herijulianti, 2002 ),
Tabel 2
Penilaian
( skor ) Untuk Tingkat Kondisi Jaringan Periodontal
|
Nilai
( skor )
|
Kondisi jaringan periodontal
|
Kriteria
|
|
0
|
Sehat
|
Periodontal sehat tidaak ada pendarahan, karang
gigi dan poket
|
|
1
|
Pendarahan
|
Pendarahan tampak secara langsung atau dengan kaca
mulut setelah perabaan dengan sonde
|
|
2
|
Ada karang gigi.
|
Perabaan dengan sonde adanyan karang gigi
|
|
3
|
Poket 4-5 gusi
|
Sebagian warna hitam pada sonde, masih terlihat
pada tepi gusi pada daerah hitam
|
|
4
|
Poket 6 mm atau lebih
|
Seluruh warna hitam pada sonde tidak terlihat,
masuk kedalam jaringan periodontal
|
7.
Mencegah penyakit periodontal.
Mencegah
penyakit periodontal bias dilakukan dengan menjaga kebersihan mulut. Rutin
menyikat gigi, flossing, dan perawatan skelingdi dokter gigi setiap minimal 6
bulan sekali.Selain itu, bias mencegah pertumbuhan plak dengan menggunakan
pasta gigi yang mengandung triclosan atau pun obat kumur yang mengandung
chlorhexidine. Bahan ini memiliki sifat antimikroba ringan dan telah terbukti mengurangi pertumbuhan plak
dan resiko terjadinya gingivitis apabila digunakan secara teratur ( Ramadhan,2010
).
Hal-hal yang harus dilakukan untuk
menghindari penyakit periodontal yaitu :
a.
Menghentikan kebiasaan merokok
b.
Memperbaiki susunan gigi yang berantakan dengan perawatan kawat gigi.
c.
Atasi kondisi stres yang bias menurunkan kekebalan tubuh.
Hidup sehat dan
mengkosumsi makan-makanan yang bergizi.
DAFTAR
PUSTAKA
Depkes, 2009. Undang-undang tentang kesehatan No. 36,Jakarta.
Dalimunthe, S. 2008. Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatra Utara, Medan.
Djamil, MS. 2011. Kesehatan Gigi ( Panduan Lengkap Kesehatan Gigi
Keluarga ). Jakarta : PT Tiga Serangkaian Pustaka Mandiri.
Fedi, P.F. Arthur. R . Vernino, dan Jhon. I. G, 2004. Silabus
Periodonti, EGC, Jakarta.
Herijulianti, E. Indriani, T.S. 2002. Pendidikan Kesehatan gigi dan
Mulut Keluarga, Jakarta.
Manson, J.D, Eley,B.M.1993.Buku ajar periodonti, EGC, Jakarta.
Notoadmodjo,S, 2003. Pendidikan dan prilaku kesehatan, Jakarta..
Pilot, T., 1993, Ilmu kedokteran Gigi pencegahan, Universitas
Gadjah mada, Yogyakarta.
Ramadhan .A,G. 2010, Serba Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut, Jakarta.
Suwelo, I.S, 1992. Karies Gigi pada Anak dengan Berbagai Etiologi Kajian Pada Anak Pra Sekolah, EGC, Jakarta
Walgito, 2003, sikap Perawat Terhadap Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan,
Jakarta
Pratiwi. D, 2007. Gigi Sehat, Merawat Gigi sehari-hari, PT. Compas
Media Nusantara-Jakarta
Melinda. 2008, Penyakit Periodontal.
http ://
wardogi. Com/ 2008/ 02/ penyakit-periodontal. Html.
No comments:
Post a Comment